Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di RW 09 Leuwigajah, Cimahi

Sampah hingga kini masih menjadi salah satu persoalan besar di Indonesia, termasuk di Kota Cimahi. Untuk menjawab tantangan tersebut, tim Program Studi Teknik Fisika Universitas Telkom bersama Program Studi Ilmu Hadis UIN Sunan Gunung Djati Bandung melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Pengelolaan Sampah Terpadu Skala RT/RW Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di RW 09 Kelurahan Leuwigajah, Cimahi”. Program ini menjadi wujud nyata dalam mendorong peran aktif warga dalam pengelolaan sampah.

Dosen Universitas Telkom yang terlibat antara lain Mukhammad Ramdlan Kirom, Tri Ayodha Ajiwiguna, dan Rahmat Awaludin Salam. Kolaborasi lintas disiplin ini dirancang untuk menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga menekankan aspek sosial serta pemberdayaan masyarakat.

Sebagai langkah awal, warga mendapatkan penyuluhan mengenai penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 26 Juli 2025, di Aula Masjid Miftahus Shiddiq RW 09 Leuwigajah, Cimahi, melibatkan karang taruna serta mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak menyadari bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah dan lingkungan RT.

Tindak lanjut dari program ini adalah pembangunan insinerator berkapasitas 25 kilogram per jam oleh tim dosen Teknik Fisika Universitas Telkom. Alat tersebut dipasang pada Sabtu, 16 Agustus 2025, di lahan kosong dekat Masjid Miftahus Shiddiq. Insinerator dilengkapi blower bertenaga panel surya sehingga lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.

Selain mengolah sampah anorganik, kegiatan ini juga mencakup pengolahan sampah organik menjadi kompos. Bersamaan dengan itu, diluncurkan program “Shodaqoh Sampah” yang melibatkan pengurus Masjid Miftahus Shiddiq serta tim dosen dan mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Program ini bertujuan menanamkan kepedulian lingkungan yang berpadu dengan nilai keagamaan.

 

 

Warga RW 09 mengikuti pelatihan penggunaan insinerator dan pengolahan sampah organik pada Rabu, 19 Agustus 2025, dengan bimbingan langsung dari tim pembuat alat. Beberapa minggu kemudian, tepatnya Sabtu, 6 September 2025, insinerator ditambah sistem Exhaust Gas Recirculation (EGR) dan diuji untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi polusi.

Langkah keberlanjutan diwujudkan dengan pendirian Bank Sampah di RW 09, yang mengelola hasil pemilahan sampah bernilai jual dan produksi kompos. Seluruh kegiatan dipantau melalui monitoring dan evaluasi agar program terus berjalan dan masyarakat mampu mandiri dalam mengelola sampah secara terpadu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *